jenis terapi anak berkebutuhan khusus

11 Jenis Terapi Anak Berkebutuhan Khusus

Pada anak autis, terapi bertujuan untuk mengajari anak berbicara, berinteraksi dengan orang lain, dan beradaptasi dengan sekelilingnya.

Sementara pada anak hiperaktif, terapi ini bertujuan untuk membuat anak lebih tenang, fokus, dan berkonsentrasi. Pada anak yang telat berbicara, tujuan utama terapi adalah untuk melatih anak mengeja dan berbicara dengan baik.

Dengan terapi, anak-anak berkebutuhan khusus dapat hidup lebih nyaman dan mampu melakukan segala sesuatunya secara mandiri.

Jenis Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Lantas, apa saja jenis terapi untuk anak berkebutuhan khusus? Berikut uraiannya.

1. Terapi Bermain

Terapi bermain merupakan jenis terapi yang dilakukan dengan cara mengajak anak bermain bersama. Meskipun tampak sepele, bagi penderita autisme bermain bersama dapat membuatnya menyadari keberadaan Anda dan orang lain.

Terapi ini sangat bagus untuk meningkatkan kemampuannya berinteraksi sosial. Sebagaimana Anda ketahui, anak autis cenderung sulit bergaul dan lebih suka menyendiri. Agar anak lebih mudah beradaptasi dan terbiasa dengan sekitar, rutinlah melakukan ritual ini.

2. Terapi Perkembangan

Anak berkebutuhan khusus membutuhkan terapi yang dapat membuatnya berkembang. Salah satu terapi yang dianjurkan adalah terapi perkembangan. Terapi ini akan membantu anak berkebutuhan khusus untuk menggali potensi yang dimilikinya.

Biasanya terapi ini akan dimulai dengan tes minat dan bakat lebih dulu. Setelah mengetahui minat anak, terapis akan melakukan pendekatan sekaligus pembelajaran. Dengan cara ini, anak akan belajar sesuatu yang disukainya dan memunculkan potensi lain yang dapat dikembangkan.

3. Terapi Perilaku

Anak berkebutuhan khusus sering merasa rendah diri. Bahkan, tak jarang ia menganggap dirinya tidak berguna dan menyulitkan orang lain. Jika anak Anda mengalami hal ini, maka cara terbaik adalah mengajaknya untuk terapi perilaku.

Dengan terapi perilaku, anak akan diajari bagaimana cara mengekpresikan emosi. Anak yang rutin terapi akan lebih mudah memahami diri sendiri, apa yang ia inginkan, apa yang ia sukai, apa yang ia benci, apa yang ia butuhkan, dan hal apa saja yang membuatnya nyaman. 

Sebagian besar anak autis sangat peka terhadap cahaya, suara, dan sentuhan. Jika ia merasa tidak nyaman, maka ia akan mudah marah dan mengamuk. Namun, dengan terapi perilaku, hal ini dapat diminimalisasi.

4. Applied Behavioral Analisis

Applied Behavioral Analisis termasuk terapi yang paling banyak digunakan. Menurut penelitian, terapi ini memang dirancang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus, seperti autisme.

Pada terapi ini, anak akan diberikan pelatihan khusus yang sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan interaksi, komunikasi, dan melatih motorik anak.

Salah satu sistem yang diterapkan adalah pemberian reward, baik berupa pujian maupun hadiah. Anak yang berhasil menjalankan perintah dengan baik akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Misalnya, jika anak sukses mengucapkan kalimat, ia akan diberi pujian.

Sementara jika ia berhasil mengerjakan kuis susun gambar atau menghafal abjad, anak akan mendapatkan mainan atau makanan kesukaannya.

5. Terapi Fisik

Anak berkebutuhan khusus memiliki gangguan perkembangan pervasive. Artinya, anak mengalami gangguan pada sensor motoriknya. Bahkan, tak jarang anak-anak berkebutuhan khusus memiliki tubuh yang lemah dengan otot lembek.

Dengan terapi fisik, anak-anak berkebutuhan khusus akan diajari cara untuk menyeimbangkan tubuh dan membuat otot yang lembek menjadi lebih kuat.

6. Terapi Biomedik

Terapi biomedik merupakan terapi yang bertujuan untuk mengetahui gangguan dalam diri anak berkebutuhan khusus, terutama gangguan pada fungsi otak. Terapi ini membantu menguatkan fungsi otak anak, meningkatkan daya ingat, daya pikir, daya tangkap, dan daya fokus.

Dengan begitu, anak akan lebih mudah memahami sesuatu. Namun, alangkah baiknya jika terapi ini juga diimbangi dengan asupan nurtisi yang penting bagi otak anak.

7. Terapi Wicara

Sebagian besar anak berkebutuhan khusus mengalami gangguan berkomunikasi, tidak hanya telat bicara, tetapi juga sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Hal inilah yang sering membuat orang tua merasa frustasi karena tak dapat memahami anaknya.

Untuk membantu anak berkebutuhan khusus, tersedia terapi wicara yang dapat membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi, kemampuan berinteraksi dengan orang lain, termasuk kemampuan meniru, mengingat, dan memahami sesuatu.

8. Terapi Sosial

Sebagaimana Anda ketahui, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki masalah untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Mereka cenderung menyukai sesuatu yang sifatnya berulang dan suasana yang tenang.

Suasana yang terlalu bising dan terang dapat memicu rasa tidak nyaman. Lantaran sulitnya mengekpresikan diri, anak autis menunjukkan ketidaknyamanannya dengan cara marah dan mengamuk.

Dengan terapi sosial, perilaku anak berkebutuhan khusus akan dibina. Anak akan dibiasakan  untuk berada dalam lingkup sosial, bermain dengan teman sebayanya, dan membiasakan diri dengan suasana ramai secara bertahap.

9. Terapi Visual

Anak berkebutuhan khusus sering kali diberi kelebihan berupa kecerdasan alami. Tak jarang mereka memiliki IQ yang tinggi. Bahkan, mengalahkan kecerdasan anak pada umumnya.

Anak berkebutuhan khusus juga cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang dilihatnya secara langsung. Dengan terapi visual, anak akan diajari bagaimana cara berkomunikasi, berbaur dengan orang lain, dan beradaptasi di lingkungan sosial.  

Picture Exchange Communication (PECS) merupakan metode terapi yang sering digunakan untuk membantu anak lebih fokus dengan cara bermain games, menonton video, atau metode elektronik lainnya.

10. Terapi Okupasi

Anak berkebutuhan khusus biasanya memiliki motorik dan gerakan yang kasar. Inilah salah satu alasan mengapa anak berkebutuhan khusus sering kesulitan memegang benda dengan baik dan benar.

Sebagai contoh, anak yang memiliki gangguan pada saraf otak sering menjatuhkan pensilnya, tidak dapat memegang sendok, ataupun membalik halaman buku. Namun, dengan terapi okupasi, kekurangan anak tersebut dapat diminimalisasi.

Terapi okupasi secara rutin dapat meningkatkan motorik anak, kemampuan anak untuk menggenggam benda, dan memperhalus gerakan.

11. Terapi Ruqyah

Terapi Ruqyah merupakan alternatif untuk menyembuhkan anak-anak berkebutuhan khusus. Sesuai namanya, terapi ini menggunakan kalam Allah Swt yang diambil dari Alquran untuk membantu merangsang otak anak, membuatnya tenang, dan merasa aman.

Baca Juga : 16 Cara Mengajari Anak Autis Bicara dan Membaca

Pelatihan Anak Berkebutuhan Khusus

Bagi Anda yang memiliki anak berkebutuhan khusus, sangat penting untuk mengikuti seminar parenting. Dengan mengikuti seminar, Anda akan mengetahui cara terbaik untuk merawat anak berkebutuhan khusus agar ia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Perawatan yang tepat akan meningkatkan harapan anak kembali pulih. Seminar ini biasanya rutin diadakan di Jakarta, di Surabaya, di Medan, di Bandung, dan kota besar lainnya.

Jika Anda tidak memiliki banyak waktu, maka pastikan untuk mengikuti pelatihan anak berkebutuhan khusus. Tempat kursus ini sering mengadakan pelatihan guru untuk anak berkebutuhan khusus dan seminar anak berkebutuhan khusus.

Demikianlah informasi mengenai manfaat dan jenis-jenis terapi anak berkebutuhan khusus yang perlu Anda ketahui. Selalu sayangi anak dan berikan yang terbaik. Yuk, bagikan dan sebarkan artikel ini!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Shares
Copy link
Powered by Social Snap